traveling

#SingaporeProject: Balada Mengurus Paspor

Pernah ditakut-takuti soal ngerinya masuk ke kompleks pemakaman pada tengah malam sama teman? Lalu kita percaya saja tanpa pernah mencoba melakukannya? Saya pernah, namun meskipun enggak sendirian (artinya bersama beberapa orang) saya pernah beberapa kali memasuki area pemakaman pada tengah malam ketika ikut ekskul Pramuka di SMA dulu. Rasanya? Yah, mendebar-bar-bar-bar-kan gitu, deh. Well, saya bukannya mau cerita soal pengalaman masuk kuburan, sih, tapi saya ingin bercerita soal mudahnya percaya omongan orang tanpa mencoba membuktikannya sendiri. Persoalannya, saya memang orang yang mudah sekali percaya omongan orang lain. Dan, persoalan lainnya, saya orang yang kemakan prinsip, “Enggak perlu ngalamin kecelakaan sendiri, untuk tahu gimana rasanya patah kaki.

Yang paling gres adalah percayanya saya pada mitos, “Ngurus paspor itu ribet dan malesin.” Dan, entah bagaimana otak saya sudah langsung menerjemahkan pesan itu sebagai sesuatu yang horor. Nakutin. Enggak pengin saya coba. Maka, saya pun mengulur-ulur untuk segera membuat salah satu dokumen yang bisa menjadi pengganti kartu identitas itu (untuk beberapa keadaan tertentu). Padahal, saya sudah kepingin bisa berpelesir ke luar Indonesia paling tidak sekali saja seumur hidup saya. Hmm, ini bukan soal gegayaan atau enggak pro nasionalisme atau apalah, tapi ya… sekadar untuk punya pengalaman saja. Siapa tahu nanti anak saya (di masa depan) bertanya ke saya, “Pa, sudah pernah ke luar negeri belum?“, meskipun saya tak tahu maksud dari anak saya (di masa depan) nanya begitu, rasanya oke kalau saya bisa jawab, “Udah donk, Nak.” Sesimpel itu.

Kembali ke soal mengurus paspor. Akhirnya setelah tarik-ulur, saya pun memutuskan mengurusnya minggu ini, setelah urusan kantor (yang lumayan ribet) kelar minggu lalu. Dan, setelah tanya kanan-kiri, lirik depan-belakang, saya memilih mengurus paspor secara online. Saya langsung mendaftar “Pra Permohonan Personal” di web imigrasi: www.imigrasi.go.id

dari sini: http://iskandarmuda.blog.uns.ac.id

Sebelum mendaftar online, saya memastikan seluruh dokumen yang menjadi syarat kelengkapannya sudah saya miliki dan siap digunakan. Unuk yang baru mengurus paspor (atau mengganti paspor –saya menyimak penjelasan petugas ketika di kantor imigrasi) harus menyiapkan KTP asli, KK asli, Akta Kelahiran atau Ijazah asli, dan surat keterangan dari kantor jika kita mendaftar dengan menuliskan sebagai karyawan suatu kantor.

Saya pun diwanti-wanti soal resek-nya petugas yang meminta ini-itu. Terutama soal standar fotokopi, map registrasi, atau tetek bengek lainnya. Sempat keder juga. Tapi, ya sudahlah, saya sudah niat. Maka, setelah mendaftar online, saya memfotokopi dokumen persyaratan dengan dua ukuran, kertas A4 dan F4. Entah karena nasib atau sudah rezekinya saya, tempat fookopi yang saya datangi di Senin (8/12) malam kemarin malah sedang enggak bisa fotokopi ukuran F4, jadinya saya hanya memfotokopi ukuran A4 dan ternyata ukuran itulah yang menjadi standar di Kantor Imigrasi tempat saya berencana mengurus paspor yaitu di Kanim Kelas I Khusus Jakarta Selatan di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta. Oiya, semua dokumen fotokopian tidak perlu dipotong atau difotokopi bolak-balik. Misalnya KTP, mintalah pada tukang fotokopi untuk memfotokopi satu lembar tanpa dipotong menjadi seukuran KTP. Biarkan fotokopiannya tetap selebar kertas A4.

Kanim Khusus Jakarta Selatan

Berbekal dokumen yang lengkap sesuai persyaratan, saya meminta izin bos di kantor untuk mengurus paspor pada Selasa (9/12) pagi. Berhubung dari desas-desus ada pembatasan kuota pengurusan paspor per harinya, saya pun langsung melesat (pakai ojek) ke Mampang pukul setengah 7 pagi. Buseeettt, sudah panjang saja antreannya. Yang sudah datang duluan, menaruh tas atau map atau barang bawaan apa pun di deret antrean untuk menandai tempat antrean mereka. Karena saya datang lebih lambat dan sudah ada pengantre yang berdiri, saya ikutan berdiri.

Pintu kantor imigrasi dibuka tepat pukul 7 pagi, dilanjutkan dengan penjelasan secara mendetail oleh salah seorang petugas tentang persyaratan pengurusan paspor dan pengantre diberikan kesempatan bertanya. Setelah sesi itu, kami pun dipersilakan untuk memasuki kantor imigrasi secara bergiliran (saya masuk rombongan ketiga), menuju lantai 2. Di lantai 2 kita mengantre lagi untuk mendapatkan nomor antrean dipanggil. Karena sudah mendaftar secara online, saya diminta menunjukkan bukti pendaftaran online untuk mendapatkan nomor antrean. Alhamdulillah, dapat nomor 3-020 (online, panggilan ke-20). Sepertinya sistem antrean di Kanim Kelas I Khusus Jakarta Selatan dibagi 3 (1. Lansia/Difabel, 2. Manual, 3. Online). Kayaknya, sih, begitu. Tapi, hari Selasa kemarin juga dibuka satu konter untuk melayani pendaftar yang hari Senin gagal ngurus karena sistem informasi keimigrasian eror. Syukurlah, saya datang di hari Selasa dan sistem informasi keimigrasian sudah normal kembali.

Beberapa pendaftar yang belum memfotokopi dokumen, ada konter fotokopi di sana. Tapi karena hanya ada satu petugasnya jadi ngantre bingit. Jadi, untuk yang mau ngurus paspor juga, sebaiknya fotokopi semua dokumen dari rumah saja. Ingat, semua ukuran A4, ya. Nah, kalau yang bawa anak kecil (yang belum ber-KTP) harus membawa surat izin orangtua dan yang ingin menambahkan nama menjadi tiga atau lebih kata, misalnya untuk tujuan umrah atau haji, harus ada surat pernyataan penggantian nama (misal, saya: Yuliono jadi Yuliono Kutcher …#ngek). Tenang, kedua formulir itu ada di tempat fotokopian juga, kok. Karena dilengkapi dengan meterai, harga formulir per lembarnya Rp8.000.

Setelah menunggu beberapa lama, kira-kira pukul 9 lebih sedikit nomor antrean saya dipanggil dan saya langsung mengarah ke konter 7. Degdegan saya kumat. Padahal, pas ngantre tadi saya sudah bisa meredam bunyi gedebugan di dada. Tapi, dengan (sok) pede saya duduk manis (maunya) di depan petugas imigrasi. Saya serahkan map dan petugas memeriksa kelengkapannya. Chitchat sebentar, memastikan bahwa saya si pemilik dokumen, petugas memindai dokumen saya. Lalu, saya coba tanyakan ke petugas apakah kalau tidak untuk urusan haji/umrah saya sebaiknya menambahkan nama (misalnya jadi Yuliono Greg Olenski), kata petugasnya sebaiknya enggak usah. Jadi, saya enggak mengajukan penambahan nama.

Enggak nyampe 5 menit saya rasa, berkas oke, saya diminta untuk foto. Degdegan saya tambah enggak keruan. Maklum, kayaknya tinggal satu prosedur terakhir, nih. Kalau sukses, saya bisa dapet pasporrrrrrr….Rrrr….

Saya sudah berlatih selfie di rumah, sebenarnya, tapi kayaknya enggak ngaruh. Saking groginya kayaknya saya sampai lupa tersenyum gulali. Semoga saja penampakan saya di buku paspor nanti enggak nyureng. #Aamiin. Terakhir, petugas meminta saya memindai kesepuluh jari saya untuk dimasukkan ke database. Saya sempat khawatir saya digelandang ke ruang interogasi karena petugas mencium gelagat enggak benar dari saya (sangking degdegan-nya, saya sampai agak gemetaran waktu scan tangan kiri). Untunglah, itu semua enggak terjadi. Prosedur terakhir saya lalui dengan baik. Alhamdulillah. Saya sudah diperbolehkan pulang. Tiga hari sejak tanggal foto saya diminta mengambil paspornya.

Rabu, 10 Desember.

Kamis, 11 Desember.

Jumat, 12 Desember, ba’da Jumat.

Setelah ragu, apakah hari Kamis itu sudah terhitung tiga hari sejak tanggal foto, saya putuskan mengambil paspor hari Jumat saja, selepas salat Jumat. Waktu pengambilan paspor: pukul 1 siang s.d. 4 sore. Pukul satu lebih sedikit saya sampai di kantor imigrasi dan ternyata yang ngantre ngambil sudah panjang. Saya dapat nomor antrean 5-098. Oiya, buat yang baru bikin paspor juga kayak saya, jangan asal nyelonong ke konter pengambilan, ya. Kamu mesti ngambil nomor antrean juga, sama dengan pengambilan nomor antrean ketika ngurus paspor. Tinggal sodorkan bukti transfer, petugas akan memindai barcode-nya, dan kita akan mendapat nomor antrean yang sesuai secara otomatis. Keren!

Tunggu punya tunggu, nomor antrean saya akhirnya dipanggil juga. Sempat degdegan (lagi) karena saya hanya membawa bukti transfer saja (saya melirik pengantre yang lain membawa dokumen lengkap) saya tetap memberanikan diri ke konter, dan… alhamdulillah, memang hanya perlu bukti transfer saja, kok. Dan, saya diminta menandatangani dan memberi tanggal pada tanda terima lalu paspor diserahkan dan saya diminta mengkopi satu untuk diserahkan kembali ke petugasnya. Dengan penuh suka cita saya mengantre di konter fotokopi lalu menyerahkan hasil fotokopi ke petugas konter pengambilan, dan taraaaaaaa… saya resmi punya paspor.

…dan lumayan, foto saya enggak nyureng-nyureng amat (kayaknya, sih).

Singapore, here I come!

Sekadar catatan:

  1. Berangkat pagi waktu ngantre, bawa ballpoint hitam.
  2. Fotokopi terlebih dahulu dokumen persyaratan, satu kali saja cukup, ukuran A4. Buat jaga-jaga, misalnya beda ketentuan, fotokopi juga ukuran F4, satu kali juga.
  3. Lebih enak daftar online. Cukup datang dua kali ke kantor imigrasinya.
  4. Kenakan pakaian yang sopan. NO sandal jepit, NO celana pendek.
  5. Kalau namamu kebetulan satu kata doank, kayak saya, sebaiknya enggak usah beli formulir penambahan nama kalau kamu memang enggak bikin paspor untuk tujuan haji/umrah.
  6. Ngurus paspor enggak horor kok, so ngapain pake calo?
Advertisements

3 thoughts on “#SingaporeProject: Balada Mengurus Paspor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s