random · Yuli dan Yono

Tiga Cangkir Kopi Sehari

“Apa-apaan sih, Yon, masih aja gitu minum kopi? Nggak inget dokter bilang apa?” komentar Yuli sambil melotot ke arahku.

Merasa terancam, kalau-kalau kopi dalam cangkir ketigaku hari ini direbut dan dibuangnya, aku mencengkeram cangkir itu kuat-kuat dan menyesapnya sekali. Rasa hangat kopi mengaliri kerongkonganku. Dan, kelegaan menyertainya.

gambar dari sini

“Aku butuh ini.”

“Yang lo butuh itu, pergi ke lab, minta cek ulang, foto rontgen kek, USG kek, asal jangan CT-scan kayak waktu itu. Bikin bangkrut,” Yuli masih mengomel di sela kesibukannya melipat celana dalam dan kaus kaki yang baru kucuci tadi pagi. Wajahnya cemberut. Kalau sudah begitu, kepingin aku menguncir bibir yang dimonyong-monyongkannya itu.

“Aku mesti melek, Yul. Kena deadline ini,” balasku berkeras. “Lagian ini cangkir terakhir, kok. Kan kamu tahu aku nggak minum kopi lebih dari tiga cangkir sehari. Itu batas aman yang dibilang artikel-artikel soal kopi yang pernah kubaca.”

“Iya, tapi itu buat yang gak punya penyakit batu ginjal kayak lo,” sergahnya gusar. Tumpukan celana dalam yang disusunnya langsung berantakan tersenggol kibasan tangannya. Yuli memang begitu. Ekspresif ketika berbicara. Tanpa sadar, ia mengibas-ngibaskan tangan selama bertutur kata.

“Ini baru gejala, kok,” bantahku lagi.

“Oh, ya? Dari mana lo tahu itu cuman gejala? Orang foto hasil CT-scan mahal lo itu aja nggak lo ambil, kan?”

Degh!

Kenapa mesti diungkit-ungkit soal itu, sih. Iya, aku tahu aku salah dan cenderung sembrono. Sudah tahu biaya CT-scan-nya mahal, tapi hasil fotonya malah tidak kuambil. Tapi, menurutku itu lebih baik. Aku jadi tak perlu tahu soal penyakit ini, kan? Lagian, dokter juga sudah bilang, diameter batunya masih kecil. Aku ingat betul dokter itu hanya memperlihatkan ukuran yang kecil dari gerak jentikan ibu jari dan jari telunjuknya. Mestinya tak perlu khawatir tho?

Toh selepas pemeriksaan dokter hari itu, aku mulai menjaga pola makanku. Aku mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang penyakit batu ginjal. Dari memperbanyak minum air putih, mengurangi minum kopi atau teh (meskipun sulit sekali menghilangkan kebiasaan minum kopi) sampai mengurangi konsumsi kacang-kacangan, tumbuhan hijau, dan apa pun yang produk turunan dari yang dilarang dikonsumsi itu. Bahkan, aku juga sudah minum obat Calcusol sebagaimana direkomendasikan salah satu temanku yang kebetulan tahu ada temannya yang pernah terkena penyakit ini. Saat ini aku sudah merasa cukup sehat. Yah, meskipun di saat-saat tertentu aku masih merasa sakit di pinggang kananku, sih.

“Entar lo kumat, baru deh tahu rasa!” repetnya kesal sembari membawa tumpukan cucian yang sudah bersih ke lemari.

“Yah, kalau memang takdirnya mati, ya mati saja,” balasku lirih.

——-

pergulatan batin antara Yuli dan Yono.

 

Advertisements

2 thoughts on “Tiga Cangkir Kopi Sehari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s