random

Mensyukuri hal-hal kecil…

Jika ditarik satu garis kesimpulan berdasarkan apa-apa yang sudah aku lalui sampai umur sejauh ini, aku bisa dengan ringan menyebutkan, hidupku cukup mulus. Entah, sebenarnya itu menggembirakan atau tidak. Tapi, tentu saja, selarik pujian tanda syukur kepada Sang Pemilik Hidup, saya bisikkan di sela-sela embusan napas, detak jantung, dan aliran darahku. Aku (terus belajar) mensyukuri semuanya.

dipinjam dari: http://vanillaluvcoklat.blogspot.com

Ketika kecil, duniaku membias antara kondisi kaya dan miskin. Ijul TK hingga SD selalu merengut tiap menyadari di rumah berlantai tanah yang kutinggali bersama kedua orangtua dan dua kakak lelakiku (dua kakak lelakiku lainnya sudah lebih dulu merantau, oiya, kami berlima lelaki), tak tampak sebuah kotak yang disambungkan ke accu yang mampu menghadirkan gambar apa-saja-berwarna-hitam-putih-dengan-suara-jernih (televisi). Hanya radio butut di salah satu meja reyot. Itu pun sudah lebih dulu dimonopoli Bapak atau kakakku.

Pada rentang ini pula, aku sering gigit jari ketika mengamati teman-teman tetanggaku dengan riang gembira bermain sepeda, game watch, atau mainan lain yang hanya bisa kulihat-kusentuh-jika-dibolehin-tanpa-bisa-kumiliki. Sampai dengan menjelang masuk SMP, barulah aku mendapat sepeda onthel pertamaku. Sebuah sepeda gunung (federal) bekas yang dibelikan ibuku dari lelang barang gadai yang tidak ditebus pemiliknya. Ibuku yang makelar gadai itu bilang harganya 75 ribu. Aku senang bukan kepalang. Maklum, tanpa sepeda itu, dijamin aku musti jalan dulu 2km untuk bisa sampai di jalan besar dan menyetop angkutan desa untuk mengantarkan tubuh kurusku ke SMP yang jauhnya 6-7km dari rumahku. Dulu ada angdes yang lewat tepat depan rumahku (pertama kali operasi tarifnya cuman Rp200, masih yang murah banget zaman itu). Tapi, perkumpulan tukang ojek dan pemilik delman (andong) memprotesnya, jadilah si angdes ini hanya lewat jalan besar (sekarang malah udah nggak operasi lagi angdesnya, kalah sama kriditan motor).

Punya sepeda, disusul dengan punya televisi di beberapa tahun berikutnya. Lagi-lagi dari usaha Ibu yang membeli TV bekas itu dari acara lelang gadai. Aku semakin semringah. Akhirnyaaaaa…aku punya TV sendiri, yayyyy….meskipun pride memiliki TV sendiri tak setinggi dulu karena hampir seluruh tetangga sudah memilikinya. Apalagi ketika masa accu lewat karena listrik mulai masuk desa sekitaran tahun 1995. Tetap saja, aku gembira-ria-suka-suka.

Masa SMA menjelang, era keinginan punya motor sempat menggelayuti pikiran. Perkaranya, jarak rumah-SMA.ku hampir 17km sekali jalan, yang artinya aku harus mengayuh sepeda onthel berjarak 34km sehari. Paling suka kalau hari mendung. Nggak terik tapi juga nggak hujan. Kalau sudah panas, mesti beberapa kali berhenti untuk sekadar mengaso sambil mengelap keringat. Kalau hujan, beuuuhh, tambah ribet. Belum lagi di beberapa jalan yang kulewati masih berupa jalan tanah, yang kalau hujan dijamin jadi becek-mana-gak-ada-odjeck. Pakai jas hujan pun merepotkan. Daerah Kabupaten Nganjuk itu terkenal sebagai kota angin, jadi kerepotan dua kali lipat. Sibuk menantang angin juga sibuk menaklukkan rinai hujan yang sewaktu-waktu menderas dan sepatu sampai celana dalamku kebasahan. Untunglah, aku tak lupa sangu sendal jepit, jadi sepatu bisa disimpan di dalam tas.

Yahhh, banyak hal yang tak mengenakkan mewarnai perjalanan masa kecil hingga remajaku. Duit pas-pasan (uang 3 ribu untuk saku seminggu!), Bapak yang temperamental (meski tak pernah dipukul, tapi selalu dimarahin dengan suara yang bisa didengar sampai radius 50meter), ditinggal Ibu ketika usiaku membutuhkan bimbingan (hikz), dan terancam tak punya masa depan karena tak punya modal untuk sekadar ikut tes UMPTN (astaga, rasanya pengen nangis!).

Tapi, hal-hal manis juga ada buatku. Bukan sombong, tapi rasanya aku mudah saja di bidang akademis. Menjadi langganan ranking 1 di kelas (sampai 2 SMA), tak pernah tidak makan dalam sehari (Bapak juga merangkap sebagai pembaca doa di acara kenduri), berhasil lulus tes masuk STAN (dan berkuliah selama setahun) hingga memiliki pekerjaan dengan penghasilan yang lebih dari cukup sekarang. Tak bisa dimungkiri, terkadang aku lupa mensyukurinya. Jika sedang sulit, otak memang cenderung mudah memerintahkanku untuk mengumpat pada Tuhan. Men-judge pilihan yang diberikan untukku. Dan, tak jarang, aku memboikot-Nya dengan melalaikan kewajibanku sebagai hamba.

Astaghfirulloh. Ampuni segala dosaku, Ya Alloh.

Advertisements

10 thoughts on “Mensyukuri hal-hal kecil…

  1. Iya kak ijul, yang penting kita jangan lupa bersyukur. Hal paling kecil terkadang terlupakan mengucap hamdalah, Alhamdulillah. *group hugs sama cha*

  2. Kisahnya sangat menginspirasi Kak :’) Hidup memang nggak pernah mudah ya, selalu butuh perjuangan.
    Baru tahu, ternyata Kak Ijul punya sisi lain yang seperti ini. Selama ini image-nya Kakak bagiku adalah kritikus novel yang smart, kadang pedes juga komentarnya, dan orang yang berbaik hati sering bagi2 buku *modus* hahaha…

  3. bangga punya temen sma kayak ijul, perjuangannya itu lho.. kalo aku harus nempuh jarak segitu jauhnya, mungkin kelas 1 sma aja ga bakal selesai, udah mutung duluan :))))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s