baca-tulis

Sang Pengeja Mimpi

Catatan: sebelumnya kusampaikan permintaan maaf untuk partner duetku, Jusmalia @juzzyoke, karena aku gagal memberikan kontribusi optimal untuk kolaborasi yang sedianya kami lakukan. Sebuah puisi atau sajak kami siapkan, tapi keraguan yang tetiba menelusup bilik hatiku memorakporandakan rencana duet ini. Semoga di kesempatan lain, kita bisa mewujudkan kolaborasi ini, Lia. Namun demikian, aku tetap ingin berpartisipasi dalam A Week of Collaboration ini dengan konsisten setiap tema. Maka, untuk tema hari ketiga, GELAP, aku memutuskan menulis cerita pendek yang kumaksudkan bergenre fantasy ini dengan menyelipkan penggalan-penggalan draft awal kolaborasiku dengan Lia. Mohon izinnya, Lia.

————————————————————————–

Matthew melompati dua batu karang sekaligus sambil mengayunkan pedangnya untuk menebas dua minimons yang menerjang ke arahnya. Darah kental berwarna hijau muncrat begitu kepala dua makhluk kecil bertaring itu terpenggal. Tanpa berhenti sejenak untuk sekadar menghela napas, Matthew terus berlari dan menerobos ilalang untuk masuk ke hutan perdu.

Di kejauhan, desingan senjata dan jeritan parau makhluk-makhluk aneh terdengar bersahutan. Gumpalan awan hitam bergulung-gulung di angkasa. Menyembunyikan wajah cemerlang sang matahari. Menghadirkan suasana yang mencekam. Mengerikan.

“Sial. Jika hari semakin gelap, lelaki ini akan sulit diselamatkan,” gerutu Mathhew dalam hati.

Sudah satu jam, kurang beberapa menit, Matthew menyelami mimpi lelaki ini. Tapi, belum ada tanda-tanda kilau berlian yang ia cari. Berlian mimpi. Waktunya kian menipis. Matthew hanya sanggup bertahan kurang dari dua jam dalam satu dunia mimpi. Jika lebih dari itu maka ia akan terperangkap di dalamnya. Dan, jika ingin bebas ia harus menghancurkan dunia mimpi yang ia masuki.

gambar dari sini: http://www.swordskingdom.com

Itu mustahil. Memang dia bisa bebas, tapi manusia yang dunia mimpinya telah hancur hanya akan menjadi serupa zombie. Hidup tapi tak memiliki tujuan. Bagai raga tanpa nyawa. Tentu saja, itu suatu pelanggaran hukum berat bagi Pengeja Mimpi seperti Matthew. Hukuman dibakar hidup-hidup atau dicelupkan ke bubur kawah gunung mimpi bukan satu jalan kematian yang menyenangkan. Maka, apalah artinya bebas, jika kemudian ia akan menjadi buronan petugas departemen kendali mimpi untuk kemudian diadili dan dihukum. Ia tak sudi.

Tak kupahami semua hal yang kini mewujud. Semua terselubung. Tak jelas. Dalam kepekatan.

Dua langkah lagi, Matthew bisa terperosok ke jurang. Beruntung ia dengan gesit memutar kaki dan menjejak tonjolan akar pohon beringin yang ada di sebelah kirinya, dan bersalto dua kali untuk menjauh dari jurang. Napasnya terengah-engah. Kepulan asap putih meliuk keluar dari celah bibirnya. Keringat menderas dari keningnya.

Sepanjang mata memandang hanyalah jurang. Di bawah sana, pepohonan lebat menyamarkan benda-benda. Tidak ada apa-apa. Matthew masih mengedarkan pandangannya. Berharap segera mendapatkan isyarat di mana pendar berlian mimpi milik laki-laki ini berada.

Aku membuka mata, dan tak kulihat apa pun. Bagai berada dalam sebuah dunia yang tak pernah terlihat sebelumnya. Memberikan cahaya seakan percuma. Aku tak mampu melihat, apa yang ingin kulihat. Kumenajamkan telinga, menjadikan suara sebagai asa. Tapi tetap saja aku tak kuasa.

Nihil. Matthew belum bisa melacak keberadaan berlian mimpi itu. Ia merogoh buntalan yang ia selempangkan di pundaknya. Sebuah kotak berhias pahatan naga dari bahan perak ia letakkan di telapak tangan kanannya. Dengan gugup Matthew mengucapkan beberapa mantra untuk membuka kotak tersebut. Namun, belum juga kotak itu terbuka, kepakan sayap makhluk serupa ngengat raksasa mengagetkannya. Hampir saja kotak itu terlepas dari genggaman dan terpelanting ke jurang.

Matthew sudah bersiap mengayunkan pedangnya ketika ia mendengar teriakan seseorang.

“Matt, cepatlah naik. Kita harus segera keluar dari sini.”

Gabriella berteriak dari atas punggung ngengat raksasa itu. Rambutnya yang panjang berkibar diterpa angin. Wajahnya gemerlap meskipun hutan dalam keadaan gelap. Masih dalam keadaan syok, Matthew memasukkan kotak yang digenggamnya ke dalam buntalannya lalu ia mengambil kuda-kuda, menjejak bonggol akar beringin, dan melesat ke punggung ngengat, tepat di belakang Gabriella.

“Kita harus segera kembali, Matt. Waktumu hanya tinggal setengah jam di dalam sini. Sedikit lagi kamu pasti akan terpenjara di sini dan Master Gordon sekalipun tak akan bisa menyelamatkanmu.” Gabriella menarik tali kekang yang mengikat leher ngengat raksasa itu dan menyepak dadanya. Seketika ngengat itu membubung tinggi dan terbang sesuai perintah Gabriella.

“Tapi, aku belum menemukan berlian mimpi Arthur, Gaby. Ia akan mati jika Pemangsa Mimpi berhasil mendapatkannya. Aku harus mencarinya.”

“Tidak sekarang, Matt. Kamu harus menghirup udara bumi terlebih dahulu. Kegelapan dunia mimpi ini bisa melumatmu. Udara bumi yang akan menetralisir semua polusi yang kamu hirup di sini. Woops!”

Dengan satu sepakan di dada kanan ngengat, mereka berbelok terbang ke kanan. Menuju sebuah gunung yang menjulang tinggi ke langit.

“Aku tahu, Gaby. Aku ini juga murid Master Gordon. Aku tak sebodoh itu.” Matthew mendadak sebal diingatkan bahwa seorang Pengeja Mimpi harus menghirup udara bumi untuk mengeluarkan racun-racun yang secara tak sadar dihirupnya selama bertualang di dunia mimpi seseorang. Itu pengetahuan dasar bagi seorang pengeja mimpi. Dan, Matthew kesal, Gabriella yang juga satu angkatan murid Master Gordon seolah melecehkannya.

Gabriella tak mengacuhkan gerutuan Matthew. Ia berkonsentrasi memandu tunggangan mereka untuk terus menuju ke puncak Gunung Tembusan Dunia, gunung tertinggi di dunia mimpi. Gunung itu yang akan menjadi pintu gerbang mereka untuk kembali ke dunia nyata. Dunia Bumi.

“Aaaaaaaaaaaaaaa…..”

Matthew dan Gabriella serempak menjerit ketika secara mendadak ngengat yang mereka tunggangi terpelanting dari udara dan menukik terjun ke tanah. Satu serangan telah menghantam sang ngengat.

“Gaby, lepaskan tali kekang. Putar tubuhmu dan rangkul aku. Cepat.”

Tanpa berpikir Gabriella segera melakukan yang diperintahkan Matthew. Dalam hitungan detik, Matthew merapal mantra pemanggil. Tepat sebelum mereka menghantam pucuk pohon pertama, sepasang sayap tersembul dari punggung Matthew yang segera memusatkan pikiran untuk mengirim perintah pada sayap barunya agar mengepak.

Kulit tangan dan kaki mereka yang tak terlindungi pakaian sempat tergores ranting pohon willow ketika ngengat menubruk pohon tersebut sebelum sayap Matthew mengepak dengan sempurna dan membawa mereka melesat kembali ke angkasa.

“Gaby, aku rasa sebentar lagi kita akan mendapat serangan dari Pemangsa Mimpi. Langit semakin gelap. Cobalah kamu panggil sayapmu. Kita akan lebih mudah bertahan dari gempuran musuh jika bisa terbang sendiri-sendiri.”

“Matt, aku belum yakin bisa memanggil sayapku. Kamu tahu itu.” Pekik Gabriella frustrasi.

Matthew memang tahu itu. Gabriella pintar dalam semua materi yang diajarkan Master Gordon. Anehnya, Gabriella sealu gagal dalam mantra pemanggil sayap. Celakanya, dari sepuluh murid Master Gordon, hanya Gabriella yang belum bisa melakukannya.

“Baiklah, kalau begitu kita harus menyusun siasat. Kaulihat, di dekat bukit sebelah utara sana, jalan yang harus kita lewati agar bisa sampai Gunung Tembusan Dunia, makhluk-makhluk kiriman Pemangsa Mimpi sudah menunggu kita. Hanya dengan menaklukkan mereka kita bisa selamat dari kegelapan dunia mimpi ini, gaby. Kamu siap?”

Gabriella mengangguk tak yakin. Tapi, apa lagi yang bisa dilakukannya? Biarkanlah itu ia pikirkan nanti. Dia bisa bertarung melawan mereka tapi tidak di udara.

———————————————————————-

Entry hari ketiga dari #AWeekOfCollaboration dengan tema GELAP, (yang sedianya) ditulis bersama dengan @juzzyoke di: http://juzzythinks.wordpress.com/

Advertisements

One thought on “Sang Pengeja Mimpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s