baca-tulis

Maaf yang Tertunda…

Terselip keenganan di hatiku sebenarnya untuk hadir di acara seperti ini. Lelah tubuh sehabis sesi pemotretan semalam belum sepenuhnya hilang. Aku memantapkan langkah menapaki tangga utama gedung berwarna hijau kebiruan, yang biasanya dijadikan sebagai tempat pameran lukisan. Namun perasaan lelah itu seolah-olah hilang secara menyeluruh ketika aku melihat seorang perempuan di dalam gedung itu. Perempuan bergaun merah, berperawakan sedang dengan bola mata bulat yang menawan. Hidungnya yang mancung berpadu sempurna dengan lesung pipi yang sesekali muncul saat berbicara. Wanita itu, Jia, adalah seorang kurator lukisan terkenal yang sudah banyak berkolaborasi dengan berbagai seniman terkenal. Ia, adalah satu-satunya alasanku merelakan waktu istirahat panjang di tempat tidurku yang nyaman.

“Beib, kok lama sih nyampenya? Hayoo, mampir ke mana dulu?” Jia segera menghambur ke arahku dan menghujaniku dengan ciuman di pipi dan sekilas di bibir.

“Biasa, Babe, Jumat malam begini jalanan Jakarta kan memang jadi seperti tempat parkir. Mobil di jalanan tapi seperti parkir.”

Aku melingkarkan tangan di pinggang Jia dan mengikuti panduannya memasuki gedung pameran. Jia bilang, sepuluh menit lagi acara akan segera dimulai. Para tamu undangan dan 4 pelukis yang karyanya dipamerkan sudah hadir di sana.

gambar dari sini: http://badrualwahdi.blogspot.com

Benar saja. Sepuluh menit kemudian acara dibuka dengan Jia yang merupakan kurator, pemilik galeri, sekaligus penggagas acara ini memberikan pidato pembukaan yang disambut dengan tepuk tangan meriah. Aku tersenyum miring melihat Jia berdiri anggun di podium. Ia laksana dewi. Semua mata tak lepas memandang sosoknya. Rasa bangga merasuki sanubariku. Aku, Indra Bagaskoro, adalah lelaki beruntung yang bisa mengambil hati sang dewi. Aku, model yang tak sengaja ditemukan seorang pencari bakat ketika aku berprofesi sebagai pelayan di sebuah warung soto kaki lima, kini menjadi lelaki paling beruntung di dunia.

Tepuk tangan masih membahana ketika secara tak sengaja mataku bersirobok dengan sepasang mata sayu milik perempuan bergaun putih di seberang ruangan. Seolah sebuah truk melaju kencang menabrakku lalu melindas kepalaku demi mendapai kenangan bahwa perempuan itu adalah perempuan yang menorehkan luka di hatiku, sepuluh tahun silam. Agatha.

Agatha, sebuah kenangan yang tak ingin lagi ku bangkitkan.  Sungguh, tak pernah ingin lagi.
Sial! Mengapa sosok itu harus hadir lagi di sini. Hadir dalam ruang di mana hatiku telah kutata supaya semuanya kembali baik-baik saja. Dia, wanita yang pernah hadir meledakan kebahagian sempurna di hidupku lalu akhirnya pergi menguburku dalam lembah kekecewaan teramat dalam. Aku tidak pernah menyangka gadis yang sepertinya mencintaiku sepenuh hati itu pada suatu waktu akhirnya meledak tanpa bisa kubendung.

“Sudahlah, Ndra, jangan paksa aku lagi. Kamu pikir aku bisa hidup apa dengan gajimu sebulan? Mau makan apa kita nanti? Aku bahkan sudah muak dengan bau soto yang datang bersamaan denganmu. Cinta saja itu tak pernah cukup!!”

Keterkejutan seakan memerangkap lidahku. Aku tak bisa lagi berbicara. Memegang tangannya saja aku sudah tak lagi mampu. Aku hanya bisa memandangi punggungnya yang berjalan meninggalkan aku dengan sejuta tanya mengapa. Punggung yang meninggalkanku dalam sebuah tangis paling haru seumur hidupku. Aku marah, marah sejadi-jadinya hingga menangis adalah ritual yang harus kujalani setiap hari.

Pernah aku berpikir untuk mengakhiri hidupku suatu waktu, supaya tak ada lagi ada airmata dan kesedihan. Itu adalah hal paling bodoh, jika kupikir lagi sekarang. Aku mencoba bangkit lagi menyusun jiwaku yang telah berhamburan tak teratur. Tuhan memang Maha Pengasih, Ia menyediaakan kejutan-kejutan indah yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya, termasuk pekerjaan dan Jia.

Oh, Tuhan, lalu hari ini mengapa dia hadir lagi? Aku merasa alam semesta berkonspirasi dengan neuron-neuron di otakku. Aku marah dan mataku memanas lebih cepat dari biasanya. Aku benci hari ini.

Seharusnya aku memang tak perlu datang ke acara ini. Aku bukan pencinta lukisan. Hanya karena Jia, kupaksakan diri hadir di sini. Sekarang aku tahu firasatku benar.

Semakin malam, acara semakin meriah. Setelah tiga puluh menit acara lelang lukisan yang heboh bak pasar tumpah, kini para tamu undangan dipersilakan menikmati after party yang diselenggarakan di ruangan bernuansa cowboy bar yang berada persis di sebelah galeri. Aku tak begitu menyukai after party, namun Jia sudah barang tentu wajib menemani para tamunya. Aku menolak dengan halus ajakan Jia, dan kukatakan aku akan menunggu saja di lobby galeri sampai after party selesai. Tentu saja Jia keberatan tapi dia sudah lebih dari memahamiku. Percuma saja memaksaku ikut after party.

Aku menyesap koktil yang tersaji di lobby sambil menyalakan iPad miniku. Daripada bengong, lebih baik membaur dulu dengan para penggemarku di dunia twitter. Aku ingin tahu apakah gosip tentangku yang katanya menjadi model bisa dipakai yang merebak seminggu lalu masih ramai.

“Kamu…Indra, kan?”

Belum juga aku sempat menghubungkan koneksi iPad ke wifi galeri, kudengar suara merdu menyapaku. Seketika aku mendongak ke arah sumber suara, dan sebentuk wajah Agatha memenuhi pandanganku. Sontak darahku menggelegak. Spontan aku hendak berdiri, namun Agatha mencegahku.

“Ndra, please. Aku cuman pengen ngomong sebentar sama kamu. Mohon berikan aku satu kesempatan ini.”

Aku tertegun sesaat demi mendengar kalimatnya yang penuh dengan nada permohonan itu. Selirik pandang kulihat sebercik air tampak berkilau di sudut matanya. Aku duduk kembali dengan gelisah.

“Apa maumu?”

“Aku ingin minta maaf padamu, Ndra.”

“Kenapa?”

“Aku sadar, aku telah menyakitimu. 10 tahun lalu, umurku belum genap 17, Ndra. Tak banyak yang bisa kupikirkan kecuali kepastian akan masa depan.”

Aku tak bersuara merespons kalimatnya. Aku tahu arah pembicaraan Agatha tapi aku malas menggali ingatan. Aku ingin sepenuhnya melupakan segalanya. Namun, semakin kuat penyangkalanku, semakin mendesak juga keraguanku. Mnegapa masih ada setitik nyeri di ulu hatiku?

“Orangtuaku mengharapkan yang lebih dari calon suamiku. Mereka tak mau jika aku harus menikah dengan lelaki yang tak sepadan denganku. Maafkanlah aku. Aku tak sanggup melawan kehendak mereka kala itu. Kamu tahu, kan, Ndra?”

Kali ini kukuatkan diri untuk menatap matanya secara langsung. Semburat kesedihan mengobar di sana. Apakah ia sedang bersandiwara? Apakah ia berniat menipuku? Mempermainkanku? Mengapa tiba-tiba ia datang dan meminta maafku? Oh, dan di mana suaminya? Suami yang dibanggakan keluarganya itu. Pembalap muda berdarah biru itu.

“Mengapa baru meminta maaf setelah sekian tahun berlalu? Mengapa tidak dari dulu?” Kudengar lemparan pertanyaanku yang bertubi-tubi.

“Aku sudah berusaha mencarimu sejak beberapa tahun lalu. Tapi sia-sia saja tak ada yang mau memberitahuku. Mereka di sana, mereka yang mengenalimu, semua membenciku. Aku tak tahu harus mencari ke mana lagi. Hingga suatu kali gambarmu terpampang di sebuah majalah. Aku, aku merasa malu, Ndra. Aku tidak berani lagi mencarimu. Aku bahkan tak pernah tahu kita akan dipertemukan di sini.” Agatha mulai serak berujar.

Aku menyesap udara begitu dalam. Apa yang harus aku jawab pada wanita yang pernah menyakitiku ini. Sesak. Hanya itu yang bisa kurasa.

Aku membuang muka dan pura-pura tertarik mengamati lukisan seorang anak kecil yang tertawa geli karena kakinya terperosok ke lumpur di sawah.

Aku tahu, menyimpan dendam hanya akan menyiksaku. Tapi, dosa Agatha dan segenap keluarga besarnya begitu besar. Bagiku, merekalah penyebab Bapak terserang stroke dan akhirnya meninggal. Bekas penghinaan itu masih membiru di hatiku.

“Aku benar-benar menyesal atas semua yang aku dan keluargaku lakukan, Ndra. Sungguh.”

Aku bergeming. Pandanganku masih terfokus pada gigi-geligi tak beraturan gadis cilik di lukisan itu. Andai saja bisa kuabaikan semuanya. Andai saja.

“Ndra…”

“Sudahlah, Tha. Tak perlulah kau merengek-rengek begitu. Sebaiknya kau pulang saja. Kembalilah pada suami pembalapmu yang sempurna itu.”

Hening. Untuk beberapa saat tak kudengar Agatha berbicara. Bahkan, desah napasnya pun tak terdengar olehku. Perlahan, aku menoleh ke arahnya. Betapa terkejutnya aku ketika kudapati Agatha sudah berurai airmata. Pipinya basah. Sia-sia ia menyapunya dengan selempar tisu.

“Rifano…dia…tak jadi pembalap lagi, Ndra. Dia lumpuh saat ini.”

Aku terhenyak.

Agatha masih dengan nada terisak mencoba melanjutkan bicaranya, “Aku mencintainya, tapi aku juga membencinya, Indra. Dia dengan gejolak emosi yang tak pernah bisa kuduga itu, membuatku begitu marah. Aku benci diriku sendiri. Aku benci meninggalkan kamu, benci dengan semua yang terjadi sepuluh tahun ini, Indra!”

Tanpa kusadari tanganku meraihnya ke arah dadaku. Tak ada lagi kebencian yang merajala begitu hebat selama sepuluh tahun terakhir. Mereka luruh begitu saja hanya dengan sebuah pelukan. Memang sebuah hati selalu punya cara yang luar biasa untuk memadat setelah hancur berkeping-keping. Kami larut dalam sebuah pelukan, namun pelukan yang bukan lagi sebagai sepasang kekasih. Ini sebuah pelukan perdamaian yang kunanti bertahun-tahun.

Aku melepas pelukan seraya memegang pundaknya lalu berbicara, “Kau mungkin sudah tahu, aku sudah punya Jia dan aku bersyukur punya dia. Aku sudah bercerita tentangmu padanya dan dia yang mengajariku arti sebuah kata maaf. Hari ini adalah hari yang tepat untuk bilang, aku memafkanmu Agatha. Aku memang marah namun sampai detik ini, aku masih mencintaimu. Tapi cintaku bukan lagi dengan cara sepuluh tahun silam. Cinta ini berbeda. Kau harus paham itu. Jangan pernah menyesali setiap keputusan yang telah kau buat, apa pun yang menjadi konsekuensinya kelak. Dan soal suamimu, Agatha, kembalilah padanya. Dia menantimu. Damaikanlah dirimu dengannya layaknya aku kini denganmu.

Agatha melirikku dengan mata masih sembab namun ada senyum yang mekar di bibirnya.

“Terimakasih, Ndra. Terimakasih sudah memaafkanku.”

Kulihat dari jauh wanitaku sedang tersenyum padaku. Aku tahu dia membiarkanku untuk tetap kuat berdiri dan berdamai dengan masa laluku.

Ah, Jia. Aku mencintaimu, Sayang!

—————————————————————————————————————————-

Entry hari kedua dari #AWeekOfCollaboration dengan tema DAMAI, ditulis bersama dengan Masya Ruhullessin @didochacha di: mruhulessin.wordpress.com

 

Advertisements

10 thoughts on “Maaf yang Tertunda…

  1. Angen makes us smaller, while forgiveness forces us to grow beyond what we were. 😉

    Kolaborasi yang apik tenan Mas. 😉

      1. Berdamai dnegan masa lalu, menjadi salah satu yang masih sulit dilakukan, bagi saya juga, mas, yang belum bisa berdamai dengan salah satu bagian dari masa lalu saya….;(

        Kolaborasi ini mepet deadline posting kemarin malam karena saya yang tetiba menciderai komitmen dengan rekan duet. Mendadak ada teman luar pulau yang kebetulan ke Jakarta minta ditemani jalan, dan salahnya saya gak bisa nolak…, semoga tak mengecewakan partner duet saya….

        Tapi, saya masih bersemangatttt…..:)

      2. Pada waktunya, ketika Mas Yul sudah mendapat momennya, insya Allah, momen berdamai dengan masa lalunya itu akan datang juga. Ah, semoga Allah menyegerakan itu untuk Mas. 😉

        Suka sekali dengan semangatnya mas! 😉

      3. Iya Mas, alhamdulillah. Saya juga senang sekali bisa mendapat lebih banyak pelajaran lagi dari tulisan-tulisan mas dan juga teman-teman yang lain. 😉

  2. aku senang mas ijul… Malah perasaan meledak-ledak inspirasi mendekati dateline yang sudah lama gak terasa.. hehehehe. Pagi ini malah bangun dengan gembria karena banyak dapet respon dari teman2 di blog. 🙂

    Berdamai memang tak gampang mas. tak perlu dipaksaain juga. Nanti biarlah waktu yang jadi teman setia untuk perasaan itu. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s