baca-tulis

Penjelma Tawaku

Secangkir teh hangat di hadapan hidungku sudah membeku. Hari ini suhu di luar berkisar 9 derajat celcius. Musim dingin telah menduduki singgasana puncaknya di kota kecil di Negeri Hermeneutika. Aku menyesap dinginnya cairan yang tersisa di cangkir sambil memandang sendu ke luar jendela kamar. Lututku terlalu lemah untuk berjalan dan menyapa kabut yang mulai berlarian turun dan menyesaki pandangan.

Tetiba ponselku berbunyi, Guntur.

“Halo Gun”

“Halo Ri, aku ke tempat kamu, ya? Hari ini dingin sekali, ayo kita buat cokelat hangat sama-sama!” Guntur berkata riang di ujung telepon. Aku terdiam beberapa saat untuk sekadar tersenyum sambil kemudian berkata “Oke, kutunggu ya.” Sesaat semua rasa sendu menguap, pergi bersama tetes embun yang mulai pergi karena mentari sudah mulai menembus sela-sela kabut di atmosfer sana.

Guntur adalah lelaki idaman setiap perempuan. Dia baik, hangat, pendengar cerita yang andal, dan yang paling unik dia pandai sekali membuat cake cokelat keju kesukaan semua penduduk Hermeneutika. Guntur lelaki yang sempurna, namun terlalu banyak yang dituntut penduduk Hermeneutika padanya, seperti halnya padaku juga. Guntur tak pernah menyukai perempuan mana pun yang datang dan melintangi garis hidupnya, kecuali ibunya, tentu saja. Ia menyukaiku, Apri Lazuapri, seorang lelaki.

gambar dari sini: http://outsidecamp.blogspot.com

Kebahagiaan bagiku adalah bisa berbagi senyum dengan Guntur setiap kali kami melakukan hal-hal remeh temeh namun begitu kuat mendorong endorphin bekerja. Seperti akhir Desember lalu, kami berdua menyusuri jalanan utama di Hermeneutika tanpa selembar baju hangat , ia berlari sambil mendorong kursi rodaku, memeluk angin kencang yang membuat pipi kami merah dan beku. Kami selalu bisa tertawa, kami ingin menikmati setiap waktu yang kami punya dengan gembira, persetan dengan pandangan sinis penduduk Hermeneutika ketika mereka melihat kami saling menggenggam tangan.

Bagiku waktu bersama Guntur adalah waktu yang paling membuatku bahagia, pasalnya aku bisa sedikit melupakan rasa sakit yang menyerang di kepalaku setiap kami bertemu. Ia akan membuatkan semua masakan kesukaanku yang katanya disajikan dengan cinta kecepatan cahaya dan senyum penghilang duka. Ia berujar bahwa aku harus bahagia, sebisa mungkin harus bahagia, tahu bahwa penyakit kanker otak stadium 1 sudah mulai melumatkan pendulum waktu. Mungkin saatku akan segera tiba.

Guntur datang sore itu, bunga tulip tampak di tangan kanannya! “Selamat sore, Ri!” Aku melebarkan engsel di bibirku dan menyambutnya dengan senyuman lebar meski kurasa ada yang sedang bermain musik rock di kepalaku.

“Aku membawa semua bahan cake cokelat kejuku loh…,” sapanya lambut seraya mengelus kepalaku. “Wah sepertinya kamu lebih keren begini, ya, Ri, aku juga akan pangkas rambut sepertimu, ah.” Ia menunjuk rambutku yang mulai rontok satu per satu sambil memberikan tatapan penuh perhatiannya yang menenangkan.

“Iya, ini hasil kemo-ku yang kedua, rambutku ingin bebas, ia memilih berpisah dengan kepalaku” Jawabku sambil tertawa.

Guntur meringis saja menanggapi candaanku sembari mulai beraksi memasang celemek berhias gambar wajahku ke tubuhnya. “Oke, masterchef Guntur siap beraksi. Special chocolate cheese cake will be served anytime soon. Apakah asisten chef Apri yang tampan siap membantu?” Guntur mengerdipkan sebelah matanya ketika menyodorkan celemek merah marun bergambar wajahnya yang sedang tersenyum kepadaku. Sekali lagi aku tertawa melihat tingkahnya.

“Seperti biasa, masterchef Guntur akan menyajikan cheese cake, dan asisten chef Apri menyiapkan alasnya. Okay?”[1]

“Okay, boss!” ucapku bersemangat sambil mendorong pelan kursi rodaku ke meja dapur.

“Untuk topingnya nanti kita buat bersama-sama. Oreo dan mentega tawarnya sudah aku siapkan di situ, Manis.”

Hatiku selalu berdenyar setiap kali Guntur memanggilku dengan sebutan manis. Apalagi, nada suaranya pun mengalun manis. Ibu atau mendiang ayahku juga memanggilku manis, tapi hanya Guntur yang dapat mengucapkannya dengan tepat. Dan, memberikan efek yang membuatku melayang.

“Tuh, kan, bengong lagi. Apa mau dicium dulu baru pangeran manisku ini mulai mencincang mentega dan melembutkan oreonya?”

Guntur itu bank tawa. Sulit bagiku untuk tak tertawa ketika ia berbicara dan menggodaku. Tapi, aku tak mau kalah begitu saja. Aku pura-pura cemberut dan mulai melelehkan mentega untuk dicampurkan dengan oreo yang kuhaluskan.

Sejenak hening menguasai dapur mungil itu. Hanya desisan api, denting peralatan masak, dan senandung lirih Guntur yang menemani kesibukan kami meracik beragam bahan dan bumbu untuk membuat cake cokelat keju favoritku ini. Guntur memang bukan penyanyi berbakat. Nadanya fals di mana-mana, namun itu bukan masalah. Bagiku, Guntur seolah Michael Buble yang mendendangkan lagu-lagu jazz merdu yang menjelma menjadi lullaby.

“Kamu sudah dengar gosip baru belum, Manis?” tiba-tiba Guntur melontarkan pertanyaan di saat aku sedang sibuk mengaduk adonanku.

“Tidak. Gosip apa?”

“Martha akan menggugat cerai Abim.”

“Apa?”

“Iya. Ternyata selama ini Abim selingkuh di belakang Martha. Dan, baru-baru ini, Martha memergoki Abim sedang berdua-duaan dengan selingkuhannya.”

Aku menggeleng kecil sambil melempar pandangan ke rumah seberang melalui celah jendela dapur. Rumah Martha dan Abimanyu serta dua putri kembar mereka. Astaga, aku tak pernah menduga mereka tak bahagia. Aku pun tak pernah menyangka Abim tega mengkhianati istrinya yang secantik Miss USA itu.

“Aku tak percaya ini! Aku…”

“Makanya jangan selalu melihat dari casing-nya saja, Manis. Kamu terbiasa melihat orang hanya dari tampilan luarnya.”

Aku merengut mendengar penghakiman yang dituduhkan Guntur padaku. Tapi, bukan berarti aku marah. Kami selalu bersikap terbuka. Jadi, sikapku bukan manifestasi kemarahan. Aku hanya masih tak habis pikir bagaimana mungkin Abim berselingkuh. Dan, oh…

“Siapa selingkuhannya?” tanyaku serius setelah menaruh loyang adonan mentega dan oreo ke dalam kulkas.

“Menurut kamu?”

“Aku tak tahu.”

“Cobalah menebak dulu, Apri.” Sahut Guntur kalem. Dia sedang memanaskan krim kental dan dark chocolate untuk toping setelah meletakkan adonan cheese cake ke kulkas.

“Ehmm…Erika?”

“Nope.”

“Ilana.” Guntur menggeleng. “Denise?” Masih salah. “Silvana?” Guntur makin keras menggeleng.

“Aku menyerah.” Seruku sambil mengangkat tangan.

“Selingkuhan Abim itu….Martina.” Saat mengatakannya Abim mencolek dark chocolate leleh  di loyang dan menowelkan ke hidungku, dan terpingkal-pingkal demi mendapati wajahku yang makin cemberut. Sialan. Aku dikerjain. Arrghh.

“Guntur jahat.” Rajukku manja. “Aku sudah serius, malah bercanda. Martina kan kuda kesayangan Martha.”

Meski Guntur selalu terkesan tak serius, namun tetiba ia melihatku dengan pandangan tajam penuh keseriusan. Cake cokelat keju telah dipanggang, lalu Guntur mendorong kursi rodaku ke halaman, setelah menyelimuti tubuhku yang gemetaran ia berlutut di hadapanku.

“Aku ingin sekali menjadi penyedia cawan bahagiamu, Ri.. Maukah kamu menjadi pasangan hidupku?” Guntur meletakkan cincin yang berkilauan di bawah sinar bulan dan ribuan bintang yang bertebaran di langit di atas kami. Aku tertegun, aku hanya berpikir apakah Guntur sudah gila? Bukankah umurku tidak dapat bertahan lama?

“Aku tahu apa yang tengah berkecamuk di kepalamu, maka izinkanlah aku untuk melengkapi hidupmu, meski dunia tak mengizinkan dan tak akan pernah merestui, namun aku bersedia berdiri di sampingmu, mendampingi kemoterapimu setiap hari, membuatkan beribu kue kesukaanmu setiap akhir pekan, atau mengajakmu menikmati bunga-bunga yang bermekaran di musim semi di pinggir danau. Kumohon Apri..Biarkan aku mendampingimu, ya?” ujarnya dengan mata berkaca-kaca menunjukkan kesungguhan dan ketulusan di setiap tatapannya.

Aku meneteskan air mata, tidak satu persatu, namun bergerombolan langsung terjun bebas di pipiku, tapi kali ini tidak dengan rasa sesak di dada atau pedih di kepala, tapi diiringi dengan seberkas tawa. Tawa yang mengiringi kesungguhan lelaki yang kusayangi, yang kini tengah berlutut di hadapanku, dengan kue cokelat yang akan segera matang, dengan cahaya bintang yang dengan manis membuat malam kami berakhir dalam dekapan erat, dekapan yang nekat. Waktu, kami tak akan takut menghadapimu!


[1] Resep dark chocolate cheese cake dari sini: http://resepanekacokelat.blogspot.com

Entry hari pertama dari #AWeekOfCollaboration dengan tema TAWA, ditulis bersama dengan @nengayuu di: http://nengayuu.wordpress.com

 

Advertisements

9 thoughts on “Penjelma Tawaku

  1. Awwwwh, I love the ending, Kakak 😀 It’s nice to know that every taboo stories not only have sad ending, but also happy ending like this 😀 Salam kenal Kak, terima kasih telah berkunjung ke blog saya! 😀 Terus berkarya!

    1. Terima kasih kembali, Sekar….yeah, kehidupan semacam ini mungkin masih fatamorgana, tapi imajinasi tak bisa dikekang, kan? Berkat tema tawa, cerita tabu ini kami angkat menjadi cerita yang cerah…:)

  2. Sweet-cake for every single word here, Mas Yul. Sangat menarik bisa mengikuti perjalanan cerita cinta dua orang manusia yang tertuliskan di sini.

    Kolaborasi yang sangat manis, sweet yet sad too.

    1. Terima kasih, Mas Teguh…sempat terpikir untuk memberi akhir dramatis tapi bahagia cuman kemudian tak tega pada dua tokoh rekaan kami, dan kami pikir cerita tabu macam ini biasanya berakhir tragis…kami ingin yang manis…apalagi dengan tema tawa yang seharusnya membahagiakan….terima kasih sudah mengobarkan semangat menulisku kembali, Mas, lewat wulan dan juzzy…

      1. Saya ikut senang dan juga merasa bersemangat mas, apalagi melihat antusiasme teman-teman yang lainnya. Semoga Mas Yul juga bisa ikut meramaikan kegiatan menulis bersama ini sampai akhir.

        Tema yang tabu terkadang memang cukup menantang penulisnya untuk tetap ‘stick to the right point’, karena ada hal-hal tertentu yang kadang kita gak bisa atur sekehendak hati. Tapi, seperti jawaban Mas untuk Dicta. Ya, imajinasi memang tak bisa dikekang. Dan ini adalah salah satu yang saya sangat suka.

        Saya akan kecewa kalau Mas Yul berhenti menulis di sini. Hihi. Semangat mas. 😉

  3. So touching~.. itu kata-kata yang kupikirkan setelah saya membaca cerita ini. Pertama agak tidak percaya.. tapi setelah di baca naik-turun-naik-turun ternyata saya tidak salah baca. saya bukan penentang atas pasangan tersebut, malah saya sangat overwhelm dan happy dengan story ini.. Cerita yang anda bawakan sangat-sangat-sangat amat menarik.. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s