random

Kata Hati…

Seberapa sering kamu memutuskan sesuatu setelah mendengar pendapat dari kata hatimu?

Aku… jarang.

Sejak aku mulai mandiri dan lepas dari asuhan orangtua dan kakak-kakakku, jalan panjang kehidupan serupa lorong panjang nan gelap, tanpa cahaya. Entahlah. Saya merasa tak siap menghadapi hidupku. Jalan takdirku. Tentu, aku tak akan pernah menudingkan jariku pada keluargaku dan menyalahkan mereka karena tidak memberikan bekal yang cukup bagiku untuk menikmati pasang surut ombak kehidupan.

Orangtuaku sudah menyekolahkanku hingga aku lulus SMA-Diploma I. Kakak-kakakku tak kurang-kurangnya mendukungku, baik secara moril maupun materiil. Jadi, jika akhirnya aku masih tetap tertatih-tatih melewati jalan kerikil nasibku, itu sepenuhnya keputusanku. Itu semuanya karena aku sendiri. Mungkin ada fase pada 30 tahun embusan napasku, aku tak sempat mencicipi proses pembelajaran penting sebagai manusia sehingga kegamangan kerap hadir pada keseharianku.

Termasuk… dalam hal mendengarkan kata hati. Jujur saja, aku bukan orang yang menjalani keseharian serba terencana. Tak jarang, aku bersikap spontan, impulsif, apa yang terlintas di benak, ya…itu yang kulakukan. Maka, jatuh dan terjerembab di kubangan lumpur bukanlah hal asing bagiku. Pengabaian atas ‘pendapat’ hatiku, itulah yang kurasa menjadi salah satu kendalaku meraih kesuksesan dalam menempuh jalan panjang kehidupan nan berliku ini.

pic: http://itsmydayswhocares.blogspot.com

Well, kata hati ini serupa firasat, bagiku. Berkali-kali, ‘kata hati’ meneriakkan opini dan aku terlambat menyadari. Untung saja, terkadang, meski tak kuikuti, akhirnya aku dan kata hatiku bertemu di persimpangan yang sama sehingga keberuntungan yang kujumpai.

Contoh saja. Ketika baru separuh jalan perkuliahan Diploma I Perpajakan di Balikpapan 2001-2002 silam, aku menginginkan jika sudah lulus minta ditempatkan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Alasannya simple saja. Dari peta, sepertinya Banjarmasin-Surabaya itu sejengkal saja, maka aku tak akan dipusingkan ketika harus mudik ke Nganjuk, Jawa Timur. Tinggal ‘loncat’ nyampe di Surabaya. Namun, pada paruh terakhir dari durasi perkuliahan yang satu tahun itu, hatiku tertambat pada kota Balikpapan. Aku sudah telanjur nyaman dan jatuh hati dengan kota petrodollar itu. Maka, ketika masa pendidikan berakhir dan kami, para mahasiswa, disodori formulr isian “kepengennya ditempatin di mana?” tanpa pikir berkali-kali, kupilih Balikpapan. Alhamdulillah, dengan sokongan hasil IPK yang memuaskan, sang penguasa yang punya hak menempatkan pegawai mengabulkan permintaanku. Jadilah, SK penempatan pertamaku di Balikpapan.

Tapi, kata hatiku ternyata punya kekuatan mahadahsyat. Belum juga aku melaporkan diri ke KPP Balikpapan dan memulai tugas di kantor itu, mendadak terbit surat sakti dari Kepala Kanwil DJP Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan (masa itu dua provinsi ini masih digabung untuk administrasi Kanwil Pajak), yang memindahkanku ke KPP Banjarmasin.

Syok.

Jelas saja.

Aku syok.

Sekali lagi, aku bahkan belum melapor ke KPP Balikpapan, tapi sudah dipindahtugaskan ke Banjarmasin. Saat itu aku pasrah saja, mau bagaimana lagi? Aku masih CPNS, jika menolak bisa saja aku langsung dinyatakan membangkang dan ditolak jadi pegawai pajak. Di kemudian hari, aku baru menyadari bahwa pemindahan tempat tugasku itu …jika dipikir-pikir adalah sesuai dengan ‘kata hatiku’. Kata hati berupa ikrar ketika pada paruh pertama perkuliahan bahwa jika lulus dan ditempatkan kerja aku ingin di Banjarmasin saja.

Kejadian seperti itu tak hanya terjadi kali itu saja. Masih banyak rentetan peristiwa yang terjadi di hidupku dengan warna begitu. Aku mengukuhkan hati, lalu goyah, memilih yang lain, tapi nyatanya Alloh berkehendak lain. Seringkali Dia menjungkirbalikkan keputusanku untuk kembali pada kata hatiku. Pada pilihan pertamaku.

Aku masih saja terkejut dengan kejadian seperti itu. Tapi aku mulai belajar mendengar kata hatiku. Dan, belajar memercayai serta mengikutinya.

Subhanalloh. Segala Puji hanya untuk Alloh, Sang Pemilik Kehidupan.

Advertisements

One thought on “Kata Hati…

  1. kata hati ya mas? kata lain dari alam bawah sadar kali ya,, dan kekuatan alam bawah sadar itu kira2 80% sedangkan alam sadar kita hanya 205,
    Jadi sebenarnya bawah sadar mas Ijul pengin ke Banjarmasin, itu spontan mas Ijul inginkan, dan sudah terlanjur di kirim ke ruang permintaan, sedang pas ingin ke Balikpapan mungkin mas Ijul menyampaikan keinginan itu dalam keadaan sadar dan baru mengirimkannya ke ruang permintaan, maka yang terkabul tentu yang pertama,, sekali lagi ini barang kali mas,, hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s