random

Kapan Siap Menikah?

Itu pertanyaan pada diri sendiri, yang sudah kuucapkan berkali-kali. Dan, belum juga terjawab sampai saat ini. Oh, tentu saja semuanya akan biasa saja kalau pertanyaan itu masih tetap hanya aku yang mempertanyakannya. Tapi, kalau sudah orang lain, dan lebih dari satu kali, jengkel juga rasanya. Tapi, mau bagaimana lagi? Sampai aku benar-benar nyebar undangan dan secara resmi menikahi seseorang, semuanya pasti akan menanyakan hal yang sama. Kapan menikah?

Pulang kantor tadi aku bertemu kawan satu divisi yang kebetulan jalan pulangnya searah, maka kami pun ngobrol sepanjang perjalanan tanpa kendaraan itu. Dari obrolan ringan seputar kampung dan moda transportasi untuk mudik, tetiba arah pembicaraan berputar haluan ke urusan pasangan. Si teman sudah menikah dengan dua anak. Berdasarkan kesepakatan dia dan istrinya, sang istri dan dua anaknya tetap tinggal di kota kelahiran. Lebih-lebih, sang istri pun bekerja di kota tersebut. Maka, si teman ‘wajib’ mudik setiap pekannya.

dari sini: http://fs-galery.blogspot.com
dari sini: http://fs-galery.blogspot.com

Engg, kalau sekadar cerita mudik sih, banyak cerita deh dari kawan-kawan kantor. Tapi, yang tak kuduga adalah cerita liku-liku perjalanan si teman ketika mengawali kehidupan rumah tangganya. Yang lebih surprise lagi ketika ia menyebut telah menuliskan kisahnya itu dalam draft sebuah buku dan sedang diupayakan untuk dapat diterbitkan. Wow…aku pun langsung angkat topi. Keren deh si teman ini. Mantappp!

Well, dari percakapan singkat sepanjang berjalan kaki itulah, lagi-lagi pertanyaan krusial sepanjang hidup, “Sudah berumah tangga?” kembali terlontar dan aku yang sudah hampir terlatih mendapati pertanyaan itu secara otomatis menjawab, “Belum, nih, susah bener ternyata nyari istri, ya? Nggak ada yang mau!”

Dari situ, si teman pun menyebutkan bahwa ia pernah mengalami kegalauan luar biasa ketika hendak meresmikan hubungan suami-istri dengan calon istrinya dulu. Masalah demi masalah datang bertubi-tubi dan sempat membuatnya ragu padahal hari pernikahan tinggal 2 hari lagi. Bahkan, ia menyebut “Ndasku rasane arepe mbledhos (Kepalaku serasa mau pecah)” karena hantaman masalah-masalah tersebut. Tapi, toh, akhirnya ia resmi menikah, dan sampai dengan saat ini telah dikaruniai 2 orang anak.

Yang juga dilontarkan si teman adalah soal keraguan apakah dia sudah siap apa belum untuk menikah. Dan, aku pun tercenung demi mendengar kalimat itu. Kalimat keramat yang menghantui setiap langkah kakiku bertahun-tahun ini. Selepas gagal mewujudkan rencana menikah pada 2004 silam, aku memang kembali digelayuti keraguan mahadahsyat, “Apakah benar aku telah siap menikah dan membangun sebuah keluarga?” Si teman pun menasihati (sebagaimana beberapa temanku yang lain) bahwa siapa pun pada dasarnya akan menjawab ‘tidak siap’ jika ditanya hal itu. Tapi, jangan lalu terkungkung dengan pertanyaan itu. Nyebur sajalah. Kita tak akan pernah tahu apakah kita akan tenggelam atau tidak di laut jika kita tidak nyebur, kan?

Aku diam. Hilang kata.

Jujur saja, sampai saat ini aku belum mendapati jawaban hati paling mantap, apakah SUDAH atau BELUM. Tentu saja sederhananya, jika menjawab sudah pun tak bisa, maka sebenarnya aku BELUM siap. Benar, kan? Lalu, kapan, aku akan siap? #duh #lirik_KTP

Advertisements

6 thoughts on “Kapan Siap Menikah?

  1. aku pribadi sih mikir gitu, Mbak, tapi yaaa…rasanya bisa juga sih kalau nggak bisa-bisa jawab siap, langsung nikah aja, ntar juga ngalir…iya, nggak sih?

    1. some people succed, some people failed with ‘ngalir’ itu.
      siapnya itu siap berencana ya.. karena ada banyak lagi tahapan yg bakal dilewati abis sah.

      yg jelas sih siap ngelepas ego pribadi untuk dibagi bersama.. ngelepas mimpi jadi pengertian. dan siap ngejalanin tanggung jawab masing2. susah senang ditanggung berdua itu bukan berarti bisa seenaknya..

  2. boleh comment gak mas,, hehehe boleh lah ya,,
    ikut nimbrung lah,, hahaha,,
    tulis aja mas di kertas, mas mau nikah tahun berapa? bulan apa? tanggal berapa? sama orang mana? dll sejelas2nya.
    baca baik2 dalam doa, tunggulah dengan ikhlas,
    thuink,,,
    kalo sukses kabarin ya,,,
    di tunggu prakteknya…
    mengalir aja mas, arahkan aliran jika kira2 mau nyasar, tapi mengalir membuat hidup lebih damai…….

  3. Bagiku, menikah perlu keberanian mas. berani memutuskan meski kita ragu. berani menghadapi bila ternyata kita salah memilih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s