film-TV-musik · traveling

Modus Anomali – Bukan Film Buatku

Till the screen went blank and showed the BIG red words of “MODUS ANOMALI”, I still don’t understand about this movie. God, it is clear, that I wasn’t born for a difficult-psychological movie like this. I don’t get it!

courtesy: http://www.filmoo.com

Wokehh, seharusnya saya memang tidak menonton hari ini, or at least, kalau pun nonton seharusnya saya ke IMAX buat mantengin The Avengers, not this movie. Saya memang ingin menonton film ini, mengingat hype dari film ini yang begitu besar beberapa waktu lalu, tapi tidak hari ini. Mungkin malah saya langsung nunggu DVD-nya saja. Tapi, mungkin memang sudah jalannya saya ‘harus’ nonton film terbaru Joko Anwar – Rio Dewanto ini.

Jadi, hari ini, hari kedua long weekend, saya butuh kena udara segar. Saya mulai frustrasi dengan keseharian saya yang monoton dan membosankan, maka saya putuskan riding my motorcycle and go to Blok M. Pertama sih berniat beli novel I For You-nya Orizuka buat hadiah #KuisSelingan di @fiksimetropop, yang ternyata belum ada di Bursa Buku Murah. Nggak jadi deh. Nah, pas suntuk juga nggak tau mau ngapain lagi, saya putuskan hendak balik ke kosan saja, ternyata oh ternyata, hujan lebat disertai angin sedang melanda Jakarta. Ya sudah, saya putuskan ke 21 Blok M Square aja deh. Last minute, saya coba nyari tiket The Avengers, eh tinggal 2 tiket tapi di depaaaaaan layar persis. OGAH! Lalu, pilihan kedua jatuh ke Modus Anomali yang ternyata maish banyak kursi kosongnya.

Saya sudah ketinggalan sekitaran 10 menitan sepertinya. Yang jelas, saya sudah langsung ketemu ‘Rio Dewanto’ yang lari lintang-pukang di kegelapan hutan, terengah-engah duduk di sebuah ceruk. Okay, jadi saya langsung terpancang pada layar dan mencoba mengikuti alur filmnya. Mostly, adegannya Rio as John Evans doank. Mana gelap, lagi. Dannnnnn, tararararaaaaaaaa…. Buat saya yang pengen ngebuang BeTe malah tambah depresi nonton film ini. During the movie, I keep asking myself, “When will the movie ends?” I can’t sit anymore. But, I am afraid that it still raining outside. So, I just glued my butt on the seat and forced myself to figure out what will John Evans do to save his family?

In the middle of the movie, saya sempat nanya lagi pada diri sendiri, “Is this movie similar to Texas Chainsaw Massacre or what?” dan makin lama saya makin berharap filmnya segera bubar. Oh-oh, tapi, belum! Saya harus terus menonton john Evans yang…..eh, kok malah membunuh satu dmei satu keluarganya sendiri. Loh? Lho? Lah? Ini apa sih filmnya? Film apa sih ini?

Terus ada datang keluarga baru, Surya Saputra – Marsha Timothy dan dua anak laki-laki mereka, yang juga dibunuhin satu-satu. Eh? Oh? Ah? Uh? Film apa sih? Ohkayyyy… rasa-rasanya saya cuman bisa mengerti (dan memfavoritkan) Janji Joni sebagai film favorit buatan Joko Anwar, lain-lainnya saya tak bisa menikmatinya, too difficult for me.

Buat yang suka psychological-thriller with the blood spread everywhere, go to the theater and watch this movie, fella, you better hurry up, before the summer movies from Hollywood sweep it from the theater.

I gave 3 out of 5 star for this movie because of the fabulous cast and the plot. But, I hate ‘handheld camera’ method to shoot this movie. Pusing, saya! Dan, sometimes, lagu dialog Rio kok masih ‘melambai’ yaaa… bawaan dari Arisan 2, ya? #eaaa

Happy watching.

Trailer here:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s