Music: Raisa – Handmade, album review

Raisa tak ada habisnya. Disantap setiap hari, dilahap setiap waktu, tak pernah setitik pun pesonanya memudar. Memang, sesekali ada yang mencoba mengganti. Isyana, Yura, atau Andrea Miranda, tapi lagi-lagi kembali kepada Raisa. Hanya Raisa.

Sejak mendengar lagu-lagunya yang mudah nempel-kuping di album Raisa dan Heart to Heart, saya memang selalu menunggu karya-karya Raisa selanjutnya. Entah berada di label major, indie, atau lagu cover sekalipun saya akan tetap menikmati keindahan suara dan melodi lagu-lagu Raisa. Baik melalui media maupun live. Hanya Raisa.

April 2016 kemarin Raisa kembali merilis album terbarunya, album ketiga bertajuk Handmade yang dibilang menjadi album indie pertamanya. Dan, akhirnya saya pun kembali bisa menyimak lagu-lagu bagus persembahan Raisa. Di luar intro, ada 10 lagu kece di album Handmade ini. Ini track list-nya:

Raisa - Handmade

Nah, buat saya, track list-nya menjadi seperti ini (saya urutkan dari yang paling saya suka sampai dengan yang paling biasa–meskipun tetap suka):

Raisa - Handmade (2)

my rating: 4,5 out of 5 star.

Leave a comment

Filed under ...my music

Tak Ada Kereta Untuk Lebaran

Rasanya sudah 2 atau 3 tahun ini, perjalanan “spiritual” bernama mudik Lebaran nggak lagi saya jabanin pake kereta api. Dulu, sejak kali pertama pindah ke Jakarta, kereta adalah moda transportasi incaran paling logis untuk bisa pulang kampung dan merayakan Lebaran bersama keluarga besar di kampung halaman. Meskipun harus ditempuh semalaman, kereta masih bertiket lebih murah ketimbang pesawat, lebih nyaman ketimbang bus, dan punya stasiun tujuan yang cuman kurang 30 menit naik ojek ke rumah saya. Pokoknya, kereta udah juara lah buat pulang kampung.

Tapi, sejak pembelian tiket menjadi semakin mudah dengan membeli secara online, saya tak lagi akrab dengan kereta api untuk mudik. Well, secara gambar besar, pelayanan kereta api sekarang jauh, jauh, jauh lebih baik dari kapan itu. Mau masuk jalur pemberangkatan pun sekarang mesti nunggu sampai 30menit sebelum keberangkatan. Tiap penumpang yang masuk diperiksa dulu kesesuaiannya. Intinya, naik kereta api sekarang “sama ribetnya” seperti naik pesawat di airport. Serbateratur. Jelas, sebuah kemajuan untuk kereta api.

Namun, ya begitu. Buat kebanyakan orang, sistem baru ini begitu memudahkan. Bagi segelintir yang lain, termasuk saya, makin menjauhkan saya dari kereta api untuk mudik. Bukannya tak mau berusaha, tapi saya sudah hopeless duluan hingga sengaja nggak mantengin website kereta api untuk berburu tiket mudik. Sudahlah, saya pake pesawat saja. Meskipun, tentu saja lebih mahal, tak perlu saya berebut tiket hingga kemungkinan dapat mendekati mustahil (untuk sekarang, paling tidak). Dan, patut disyukuri pula, saya punya dana cukup untuk membelinya.

Saya cuman keinget masa-masa mesti ngelayap ke stasiun pas Subuh sehabis sahur ke Gambir demi selembar tiket mudik. Mungkin saya memang salah satu juara penggagal move on, ya, maunya mengenang masa lalu terus. Duh.

2 Comments

Filed under ...my problem

Tips on taking train from Singapore to Malaysia

#SingaporeProject: to KL by train!

YQ travelling

UPDATE [SEPTEMBER 16, 2014] NIGHT TRAIN SEEMS TO BE CANCELLED.

THE SELECTION APPEARS ON THE WEBSITE BUT SEATS CANNOT BE CHOSEN. LET’S ASSUME IT’S CANCELLED, UNLESS SOMEONE CALLS KTM TO CONFIRM.

Update [March 23, 2013] Check out the FAQ too

I went on the overnight train to Kuala Lumpur last weekend and it was really fun–the train ride and the trip. For those who have been wondering how to take the old rail train to Malaysia, here are some money saving tips that you can use to save on the train trip from Singapore to Malaysia. My guide will focus on buying tickets online.

1. Leave from JB Sentral instead of Woodlands, Singapore

Actually, you can stop reading from here because this is the best tip I have. As noted in my previous post announcing my trip, you will save half the amount if you leave from Malaysia…

View original post 697 more words

Leave a comment

Filed under ...my today's agenda

Dian Sastro Dikentuti Lukman Sardi 7 Hari 24 Jam…

Sebagai fans Distro –Dian Sastrowardoyo– saya merasa gagal ketika “hampir” terlewat menonton film terbaru Distro ini. Pun, saya tahu promo filmnya ini secara enggak sengaja ketika saya lagi butuh nonton di bioskop, klik menu Now Playing di web-nya 21, lalu shock lihat ada nama Distro di barisan deskripsi film 7/24.

HARUS. DITONTON. BANGET.

Dan, yah, akhirnya saya nonton juga. Dan, suka. Dan, saya tetap nge-fans sama Distro. Oke, saya lagi malas bikin resensi panjang, hehehe. Yang jelas, sih, 3,5 dari 5 bintang buat film ini. Distro yang biasa tampil ayu dan anggun (seperti di iklan LINE – AADC jilid 2), tampil gila-gilaan di 7/24 ini. Bisa bayangin Distro tidurnya pecicilan dan ngorok enggak jelas? Hahaha. Nggak banget, ya? Nah, Distro kayak begitu di sini. Kalaupun enggak menang FFI tahun depan, saya sudah cukup teryakinkan kalau Distro memang bisa akting, kok. Lukman Sardi? Hah, dia mah enggak usah ditanya. Aktingnya natural. Kayak enggak lagi main film.

Sayangnya, saya enggak nemu chemistry yang kuat antara Distro-Lukman Sardi sebagai pasutri alias pasangan suami-istri. Dunno why. Mending Nicholas Saputra aja mestinya yang jadi suaminya Distro, lebih dapet kayaknya, hahaha. Tapi, entaran malah dikira AADC jilid 3, yak… Lalu kata-kata “speechless” yang berulang-ulang-ulang dikatakan sama Hengki Solaiman malah bikin bete lama-lama. Sekali-dua kali sih oke, tapi kalau setiap ada adegan dia terus dialognya, “Speechless saya…”, saya pun jadi speechless ngelihatnya.

Kalau soal ceritanya sendiri sih STD bangetlah. Tentang dua orang yang sama-sama workaholic, yang sudah nikah 5 tahun, dikaruniai satu anak cewek, dan tinggal bareng ibunya Distro (saya lupa siapa nama tokoh keduanya, hahaha), lalu suatu ketika kesehatan Lukman Sardi drop terus masuk RS karena gejala hepatitis A. Eh, ternyata kemudian Distro pun masuk RS karena gejala typhus.  Nah, secara garis besar, di setting RS inilah kisah film ini diceritakan. Kocak. Seru. Bikin ngakak. Tapi, sayang, eksekusi ending-nya masih kurang tergarap rapi dan terkesan buru-buru. Saya enggak bisa terharu, entah kenapa. Tapi, overall, saya puas banget dengan comeback-nya Distro ini. Semoga setalah ini ada AADC jilid 2 (full movie) beneran, ya. Aaamiin.

2 Comments

Filed under ...my movie

#SingaporeProject: Balada Mengurus Paspor

Pernah ditakut-takuti soal ngerinya masuk ke kompleks pemakaman pada tengah malam sama teman? Lalu kita percaya saja tanpa pernah mencoba melakukannya? Saya pernah, namun meskipun enggak sendirian (artinya bersama beberapa orang) saya pernah beberapa kali memasuki area pemakaman pada tengah malam ketika ikut ekskul Pramuka di SMA dulu. Rasanya? Yah, mendebar-bar-bar-bar-kan gitu, deh. Well, saya bukannya mau cerita soal pengalaman masuk kuburan, sih, tapi saya ingin bercerita soal mudahnya percaya omongan orang tanpa mencoba membuktikannya sendiri. Persoalannya, saya memang orang yang mudah sekali percaya omongan orang lain. Dan, persoalan lainnya, saya orang yang kemakan prinsip, “Enggak perlu ngalamin kecelakaan sendiri, untuk tahu gimana rasanya patah kaki.

Yang paling gres adalah percayanya saya pada mitos, “Ngurus paspor itu ribet dan malesin.” Dan, entah bagaimana otak saya sudah langsung menerjemahkan pesan itu sebagai sesuatu yang horor. Nakutin. Enggak pengin saya coba. Maka, saya pun mengulur-ulur untuk segera membuat salah satu dokumen yang bisa menjadi pengganti kartu identitas itu (untuk beberapa keadaan tertentu). Padahal, saya sudah kepingin bisa berpelesir ke luar Indonesia paling tidak sekali saja seumur hidup saya. Hmm, ini bukan soal gegayaan atau enggak pro nasionalisme atau apalah, tapi ya… sekadar untuk punya pengalaman saja. Siapa tahu nanti anak saya (di masa depan) bertanya ke saya, “Pa, sudah pernah ke luar negeri belum?“, meskipun saya tak tahu maksud dari anak saya (di masa depan) nanya begitu, rasanya oke kalau saya bisa jawab, “Udah donk, Nak.” Sesimpel itu.

Kembali ke soal mengurus paspor. Akhirnya setelah tarik-ulur, saya pun memutuskan mengurusnya minggu ini, setelah urusan kantor (yang lumayan ribet) kelar minggu lalu. Dan, setelah tanya kanan-kiri, lirik depan-belakang, saya memilih mengurus paspor secara online. Saya langsung mendaftar “Pra Permohonan Personal” di web imigrasi: www.imigrasi.go.id

Continue reading

3 Comments

Filed under ...my today's agenda

#SingaporeProject: Let’s Have a Dream!

Terkadang obsesi memang menyebalkan. Ketika ia telah masuk dan menjalari pembuluh darah, maka tak ada jalan keluar kecuali memuaskan obsesi itu. Saya sering mengalaminya. Dalam pelbagai bentuk. Kali ini ia berbentuk keinginan untuk ‘berjalan’. Menjadi tak biasa karena tujuan akhir dari perjalanan itu adalah negeri seberang: Singapura.

Hah?

Biasanya tujuan perjalanan saya masih di sekitaran sini-sini saja. Tapi, entah kenapa, semakin hari keinginan untuk menjejakkan kaki di negeri Lee Kuan Yew itu menjadi semakin tak tertahankan. Satu yang saya pahami, ini karena obsesi saya yang lain: Menimbun buku. Ya, tak bisa dimungkiri, hasrat terbesar saya untuk melancong ke negara Merlion adalah untuk berbelanja buku. Oh. My. GOD! Kayak saya masih kekurangan buku bacaan saja. Padahal, senyatanya masih ada ratusan buku tertumpuk di kamar dan menanti untuk saya jamah. Huh!

Namun, saya juga tahu bahwa obsesi yang dengan sopan diterjemahkan otak saya sebagai bentuk rasa penasaran ini tak akan pernah hilang dari benak kecuali dengan memuaskan rasa kepenasaran saya itu. Maka, demi hidup yang lebih tenang, saya mesti melaksanakan niat ini. Sebut saya norak, tapi sejujurnya saya memang sangat bersemangat sekaligus khawatir untuk melakukannya. Di satu sisi, saya ingin –paling tidak– sekali pernah ke luar negeri, sedangkan di sisi lain, saya pun tak menyukai menjadi asing di daerah yang benar-benar tak saya kenali.

Oleh karenanya, saya menetakpan #SingaporeProject ini. Untuk saat ini saya memang baru merencanakan untuk bepergian ini sendiri, siapa tahu di tengah jalan ada teman yang juga sedang terobsesi pergi ke sana, jadi bisa barengan. Yah, meskipun mungkin beda tujuan, bisalah untuk berangkat dan pulangnya barengan, di Singapura-nya mencar, hehehe.

Oke, beberapa hal yang mesti dikerjakan:

  1. Bikin paspor
  2. Mencari tahu seluk beluk Singapura (sudah beli buku panduan, hah!)
  3. Menyusun jadwal sehingga bisa menentukan berapa lama di Singapura
  4. Menetapkan tanggal keberangkatan (paling lama Februari 2015)
  5. Mencari tiket promo dan memesan hotel/hostel/guesthouse murah dekat tujuan utama
  6. MENABUNG
  7. —belum terpikirkan
  8. —belum terpikirkan

 

2 Comments

Filed under ...my problem

Melukis bayangmu…

Kau selalu ada, walau tersimpan di relung hati terdalam…

Video klip terbaru Adera Ega untuk single-nya Melukis Bayangmu yang juga terdapat dalam album “Lebih Indah”. Selamat menikmati.

Leave a comment

Filed under ...my music